TOTAL MEMBERS:
1.796
TOTAL BLOG ENTRIES:
465
TOTAL FORUM POSTS:
1.751
Keep me logged in
Create Blog

RAGAM DAN JENIS PENGETAHUAN MANUSIA

Navigation: Blog Online » Browse All Blogs » Jurnal Psikologi » RAGAM DAN JENIS PENGETAHUAN MANUSIA

Published on 23 October 2011 14:48 by Queen Anggie Comment
Category: Jurnal » Jurnal Psikologi 403 Views  4520 Words
Print RAGAM DAN JENIS PENGETAHUAN MANUSIA   PDF RAGAM DAN JENIS PENGETAHUAN MANUSIA
  Share

RAGAM DAN JENIS PENGETAHUAN MANUSIA


Pengetahuan adalah hasil dari aktivitas mengetahui yakni tersingkapnya suatu kenyataan kedalam jiwa hingga tidak ada keraguan terhadapnya.[1]

Alkisah bertanyalah seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana, “coba sebutkan kepada saya beberapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya!”

Filsuf itu menarik napas panjang dan perpantun :

            Ada orang yang tahu di tahunya

            Ada orang yang tahu di tidak tahunya

            Ada orang yang tidak tahu di tahunya

            Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya[2]

menurut saya arti dari pantun seorang filsuf itu adalah :

a)      Ada orang yang tahu di tahunya.

Adalah seseorang yang paham akan segala kemampuannya sehingga ia bisa mengembangkan potensi atau bakat yang ada pada dirinya.

b)      Ada orang yang tahu di tidak tahunya.

Adalah seseorang yang mengetahui kelemahannya

c)      Ada orang yang tidak tahu di tahunya.

Adalah seseorang yang tidak mengetahui potensi atau bakat yang ada pada dirinya.

d)     Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya

Adalah orang yang tidak tahu potensi dan kelemahannya.

Ada tiga macam pengetahuan manusia, yaitu :

1.      Pengetahuan Sains (scientific knowledge)

Ialah sebuah pengetahuan yang logis-empiris.

Ilmu pengetahuan sains mempunyai metode dan pradigma tertentu.

Metode dalam ilmu sains adalah metode ilmiah, sedangkan pradigma dalam ilmu sains adalah pradigma positif yang menyempurnakan metode ilmiah dengan memasukkan perlunya eksperimen dan ukuran-ukuran.

Jadi ilmu pengetahuan sains adalah ilmu pengetahuan yang memiliki objek yang bersifat empiris dengan metode ilmiah dan pradigma positif, dimana kebenarannya itu ditentukan oleh bukti-bukti empiris dan logis.[3]

2.      Pengetahuan Filsafat (philosophy knowledge)

Ialah  pengetahuan yang diperoleh manusia dengan memanfaatkan kekuatan akal dalam melakukan abstraksi, pembangunan konsep dan penyusunan argument.

Pengetahuan filsafat meiliki objek yang abstrak tetapi logis,dengan metode rasio dan pradigma logis, dimana kebenarannya itu dipertanggungjawabkan secara logis, tidak secara empiris.[4]

3.      Pengetahuan Mistik (mystical knowledge)

Ialah pengetahuan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, tidak juga secara logis.

Pengetahuan mistik memiliki objek yang abstrak supralogis, dengan metode latihan dan pradigma mistis, dimana ukuran kebenarannya ditentukan oleh rasa, yakin, kadang-kadang empiris.[5]

Menurut William James tokoh psikologi Amerika menyatakan bahwa penghayatan mistik bercirikan sebagai berikut :

a)      Ineffability

Sebuah pengalaman dikatakan sebagai ineffable saat kata-kata tidak mampu mengekpresikan sari dari sebuah pengalaman.

Seorang yang mengalami penghayatan mistik kerapkali mengalami fenomena yang melampaui kemampuan kata-kata untuk menjelaskan.

b)      Noetic Quality

Dalam pengalaman mistik seseorang mengalami sesuatu yang tiba-tiba di pahami, atau ada semacam kecerdasan yang muncul di benak.

c)      Transcience

Menyatakan bahwa pengalaman yang sangat unik tersebut tidak mudah untuk dicapai dan dipertahankan menetap.

Pengalaman-pengalaman yang menakjubkan wajar bila ingin diulang kembali.

d)     passivity

Sebuah keadaan saat pengalaaman mistis terjadi, dan pada saat intensitas sangat besar, tanpa peran seorang untuk berusaha melakukan kegiatan tertentu. Pada pengalaman ini seseorang mengalami hilangnya batasan ego.



[1]   Drs.H.Mundiri,Logika,Jakarta,1994

[2] Jujun S. Suriasumantri, filsafat ilmu sebuah pengantar popular, penerbit pustaka sinar harapan, Jakarta, 2007, hlm.19

[3] PROF. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat umum, 1990, hlm.16

[4] PROF. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat umum, 1990, hlm.17

[5] PROF. DR. Ahmad Tafsir, Filsafat umum, 1990, hlm.17



Blog Menarik Lainnya




Komentar



PsikoMedia © 2008-2012 ® All Rights Reserved