Navigation: Blog Online » Browse All Blogs
» Psikologi Industri Organisasi
» Penolakan Terhadap Perubahan oleh Pegawai
Penolakan Terhadap Perubahan oleh Pegawai
Seperti yang kita ketahui bahwasanya pegawai negeri sipil memiliki sikap konservatif dan hal tersebut berdampak pada sikap untuk selalu menolak terhadap perubahan pada hal yang baru, hal tersebut terjadi khususnya pada pegawai- pegawai yang sedang memegang jabatan basah atau proyek tertentu. Menurut Reksohadiprojo dan Handoko penolakan terhadap perubahan (resistance to change) adalah suatu hal yang sering terjadi dan bersifat alamiah jika dalam suatu organisasi terjadi perubahan (2001: 324).
Lebih lanjut Reksohadiprojo dan Handoko menyatakan bahwa peraturan-peraturan dan norma-norma individu dan kelompok yang telah menjadi peganganpun dapat menghambat proses perubahan. Individu yang menolak perubahan sangat mungkin merasa cemas dengan adanya peraturan-peraturan dan norma-norma baru yang belum dipahaminya. Penyesuaian terhadap perubahan- perubahan baru sering mengalami kesukaran dan memerlukan waktu yang lama serta jabatan yang diembanpun bias hilang atau direbut orang lain (2001: 324- 325).
Hasil penelitian Nevin , dkk menunjukkan bahwa pegawai yang diperlakukan secara berbeda oleh atasan akan merespon tergantung dari stimuli yang ia tangkap. Bila stimulus yang ditangkap sesuai dengan persepsi yang ditangkap maka pegawai tersebut cenderung pro terhadap perubahan yang terjadi atau diusahakan akan tetapi bila stimulus atau gejala sosial mengkhawatirkan keadaannya maka ia akan cenderung memiliki sikap untuk menolak terhadap perubahan atau sta tus quo (2003: 321).
Menurut Robbins penolakan terhadap perubahan merupakan suatu sikap yang muncul dalam proses perubahan organisasi baik berasal dari individu maupun kelompok yang menentang atau menolak perubahan (2003:632). Selanjutnya Robbins menjelaskan bahwa sikap penolakan terhadap perubahan menunjukkan tingkat kestabilan dan perkiraan tingkah laku yang berhubungan dengan kebiasaan individu. Sikap penolakan terhadap perubahan tidak timbul secara standar atau baku dan tidak timbul dengan cara yang sama. Artinya tingkat resistensi antara individu yang satu dengan individu yang lainnya berbeda. Sikap penolakan terhadap perubahan ini dapat tampak jelas terlihat, muncul secara lengkap, muncul dengan tiba-tiba atau dapat tertunda yang kemudian hari akan muncul. Atribut perubahan ini mungkin saja secara cepat dimana pegawai memberikan respon dalam bentuk komplain, memperlambat kerja, ancaman untuk melakukan perlawanan, atau sebaliknya pegawai malah akan menyukainya. Daya penolakan yang mungkin lebih tajam dan lengkap dapat berupa hilangnya loyalitas terhadap organisasi, hilangnya motivasi kerja, meningkatnya kesalahan kerja, serta meningkatnya ketidakhadiran pegawai dengan berbagai alasan (Robbins, 2003: 633-634).
Menolak terhadap perubahan tidak selamanya dalam bentuk nyata, tampak atau terucapkan, melainkan juga dapat terjadi dalam bentuk tidak tampak. Dapat terjadi spontan atau menunggu waktu, beberapa hari kemudian, berminggu- minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun kemudian. Penolakan terhadap perubahan dapat terjadi dalam bermacam-macam bentuk misalnya hilangnya kesetiaan, hilangnya motivasi kerja, timbul banyak kesalahan, bekerja lambat, banyak absensi, bahkan dalam bentuk terang-terangan misalnya menyatakan ketidaksetujuan, protes, atau lebih keras lagi dalam bentuk demonstrasi (Cummings dan Worley, 1997: 480).
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan penolakan terhadap perubahan adalah respon emosional atau perilaku terhadap ancaman nyata atau imajinasi yang terjadi pada rutinitas kerja yang sudah mapan pada pegawai. Perilaku yang agak tampak pada penolakan terhadap perubahan dapat berupa penolakan secara halus dan penolakan yang sangat tampak adalah sabotase secara terang-terangan terhadap proses perubahan yang dilakukan organisasi.
Blog Menarik Lainnya
|