Navigation: Blog Online » Browse All Blogs
» Psikologi Klinis
» Tourette Syndrome
Tourette Syndrome
Hai..hai..
mo posting hasil tugas tugas kuliah niih..
smoga membantuu...
Udah ada yg pernah nonton film Front Of The Class beluum..?? filmnya bagus bgt menurut aku..bisa kasih spirit buat orang-orang yang slalu merasa kurang n ga sempurna dalam dirinya dan membenarkan bahwa kekurangan itu bukan suatu penghalang dalam mencapai suatu kesuksesan..aku udah tonton film ini beberapa kli teuteup aja terharu..
soooo..kalian yang belum nonton film nya coba deh tonton filmnya..bagus bgt..ini sdikit tentang bococran filmnya..
Film yang diangkat dari kisah nyata tentang seorang anak bernama Brad Cohan, yang menderita Tourette Syndrome, yakni suatu GANGGUAN MENURUN yang ditandai dengan gerenyet urat syaraf otot sederhana, kompleks, dan vokal yang terjadi secara berulang-ulang dan tanpa disadari, sepanjang hari, selama satu tahun. Brad dikenal sebagai seorang pembuat onar, karena tak mampu menghentikan gerakan kaki, kepala, maupun suara aneh. Hal ini sangat mengganggu sang ayah, karena ia tidak dapat mengerti mengapa Brad tidak dapat menjadi anak manis yang dapat duduk dengan tenang. Tak ada orang yang memahami 'kenakalan' Brad hingga sang ibu menemukan bahwa Brad menderita Tourette Syndrome.
Mengetahui yang dialami Brad Cohen sudah sampai pada taraf mengeluarkan suara, seperti woaa..woaaa! pffhhh..woaaa!! Gara-gara suara inilah, teman-temannya sering mengejeknya sebagai anjing yang sedang menggonggong. Tidak hanya itu, Brad juga terpaksa dikeluarkan dari sekolahnya karena dinilai menggangu teman-temannya ketika berada di ruang kelasnya. Dan sampai akhirnya Brad pun pindah kesekolah yang baru. Brad mengalami kesulitan saat seorang pembicara datang ke sekolahnya mengundang dirinya maju ke atas panggung untuk menjawab pertanyaan. Meskipun jawaban sudah diujung lidahnya, namun ia tetap tidak bisa mengeluarkannya sehingga ia diolok-olok oleh teman-temannya. Teman-teman mengira ia adalah orang yang bodoh, karena tak mampu menjawab pertanyaan yang sederhana. Hal tersebut tidak dapat dibiarkan oleh sang kepala sekolah. Ia meminta Brad dengan berbesar hati mengungkapkan penyakit yang ia derita dihadapan seluruh warga sekolah. Sejak saat itu, mereka tidak mengejek Brad, bahkan sebagian dari mereka menunjukkan rasa simpati. Brad mulai memiliki rasa percaya diri dan semakin mempelajari sindrom Tourrete. Bermula dari kejadian itu, Brad memutuskan bahwa ia harus menjadi seorang guru. Untuk menunjukkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, meskipun mempunyai keterbatasan. Setelah lulus dari SMA, Brad memutuskan untuk berkuliah di Bradley University, Illinois dan lulus dengan predikat cum laude! Sayangnya, dengan predikat cum laude ditangan, tak membuat Brad mudah mendapatkan pekerjaan. Lagi-lagi hal tersebut dikarenakan pihak sekolah tak yakin bahwa seorang penderita Tourette Syndrome dapat mengajar dengan baik.
Pada kunjungan lamaran pekerjaan yang ke 25, akhirnya Brad mendapatkan tempat yang tepat. Tempat itu bernama Mountain View Elementary School, Atlanta. Disana ia bertemu dengan murid-murid yang 'bermasalah'. Mulai dari yang hiperaktif, ceria, maupun yang memiliki penyakit kanker. Dengan metode yang segar, Brad mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Keberhasilan suami dari Nancy Lazarus dalam 'mengendalikan' anak-anak bermasalah tersebut akhirnya mengantarkan ia memenangkan Sallie Mae First Class Teacher of the Year pada tahun 1997.
Analisa
Istilah sindrom Tourette berasal dari seorang ahli saraf dan psikiater berkebangsaan Perancis bernama Georges Albert Édouard Brutus Gilles de la Tourette yang bekerja di sebuah rumah sakit di Paris ”l’Hopital de la Salpetriere”. Istilah Sindrom Tourette sendiri diberikan oleh Jean-Martin Charcot yang merupakan seorang profesor, ahli saraf terkenal pada akhir abad ke-9 di Perancis yang juga merupakan mentor dari Georges Gilles de la Tourette (Itard JMG, 1825).
Contoh anak sindrom Tourette terlihat dari sering mengedipkan mata, mengalami ketegangan leher, mengangkat bahu terus menerus, kedutan pada wajah, mendecak lidah, latah dengan mengeluarkan kata-kata yang didengarnya bahkan kata-kata kotor. Sindrom tourette merupakan bagian dari tics disorder. Sindrom Tourette bisa terjadi pada siapa saja dan dari golongan manapun. Sindrom tourette ini berhubungan dengan tics. Tics adalah gerakan motorik dan vokalisasi yang berulang, tiba-tiba dan sering. Tics bisa terjadi jika seorang anak stres atau terlalu fokus pada suatu kegiatan seperti membaca atau menjahit
Jenis tics ada tics motorik yang sederhana dan umum terjadi seperti sering mengedipkan mata, ketegangan leher, mengangkat bahu, kedutan pada wajah, dan batuk. Sedangkan tics vokalisasi yang umum seperti berdeham. Sedangkan tics motorik yang kompleks adalah mimik wajah, sering melakukan hal yang sebenarnya tidak perlu seperti memperbaiki posisi badan, lompat, mencium barang.
Tanda-tanda awal Tourette Syndrome biasanya berupa kebiasaan berkedip hingga berkali-kali, sentakan kepala ke kiri dan ke kanan, meregangkan leher, sampai mengeluarkan suara-suara keras. Gerakan berulang-ulang ini terjadi tanpa disadari (tic), atau lebih tepatnya tanpa diinginkan oleh si penderita kali yaa.. Karena mereka juga sebenarnya tidak ingin melakukannya, namun apa daya te Diagnosis
Gejala sindrom Tourette dapat berbeda antara satu anak dengan anak lainnya, namun berdasarkan DSM-IV gejala umum yang biasanya muncul adalah (Zinner, 2004):
|
Berbagai macam tics baik itu motorik maupun vokalisasi telah muncul beberapa kali selama kurun waktu gangguan, walaupun tidak muncul secara bersamaan
|
|
Tics sering muncul dalam sehari (biasanya dalam rentang waktu yang pendek) dan hampir setiap hari atau tidak teratur dalam periode lebih dari 1 tahun, dan selama periode ini tidak pernah ada periode bebas tics yang lebih dari 3 bulan
|
|
Kemunculannya pertama kali (onset) pada usia di bawah 18 tahun
|
|
Gangguan tidak disebabkan langsung oleh pengaruh substansi (misalnya stimulant) atau kondisi medik umum (misalnya penyakit Huntington atau postviral encephalitis)
|
Dalam PPDGJ-III kriteria diagnosisnya adalah (Maslim, 2003):
|
Tic motorik multipel dengan satu atau beberapa tic vokal, yang tidak harus timbul secara serentak dan dalam riwayatnya hilang timbul
|
|
Onset hampir selalu pada masa kanak atau remaja. Lazimnya ada riwayat tic motorik sebelum timbulnya tic vokal. Sindrom ini sering memburuk pada usia remaja dan lazim pula menetap sampai usia dewasa
|
|
Tic vokal sering bersifat multipel dengan letupan vokalisasi yang berulang-ulang, seperti suara mendehem, bunyi ngorok, dan ada kalanya diucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat cabul. Ada kalanya diiringi gerakan isyarat ekopraksia, yang dapat juga bersifat cabul (kopropraksia). Seperti juga pada tic motorik, tic vokal mungkin ditekan dengan kemauan untuk jangka waktu singkat, bertambah parah karena stress dan berhenti saat tidur
|
Dalam menegakkan diagnosis, walaupun telah ada panduan yang cukup jelas seringkali terjadi misdiagnosa (salah diagnosis) yang dapat berakibat buruk jika tidak diperhatikan secara serius. Beberapa kondisi komorbid juga dapat muncul pada anak atau remaja penderita sindrom Tourette, sehingga menambah kompleksitas dalam melakukan diagnosis. Untuk meminimalisasi kemungkinan kesalahan diagnosis, dapat dilakukan diagnosis banding dengan beberapa gangguan dan juga melakukan screening atas beberapa gangguan yang memiliki komorbiditas dengan sindrom Tourette. Berikut ini adalah tabel yang memuat berbagai diagnosis banding dan gangguan komorbid (Zinner, 2004):
|
Diagnosis Banding untuk Sindrom Tourette
|
|
Wilson disease
Sydenham chorea
Multiple sclerosis
Head injury
Postviral encephalitis
Direct effects of a substance (e.g., neuroleptic agent)
|
Myoclonus (brief, simple, shocklike muscle contraction)
Spasms, including blepharospasm
Stereotypies (sering muncul pada gangguan perkembangan pervasif)
Compulsions
Transient tic disorder
Chronic tic disorder
|
|
Gangguan-Gangguan yang memiliki Komorbiditas dengan Sindrom Tourette
|
|
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (AD/HD)
Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)
Gangguan belajar
Gangguan kecemasan
Gangguan suasana hati (mood)
Gangguan tidur
|
Executive dysfunctions (seperti kemampuan organisasi yang buruk dan atau proses intelektual yang inefisien)
Perilaku melukai diri
Gangguan kepribadian
Oppositional Defiant Disorder (ODD)
|
Ada 2 kategori untuk sindrom Tourette (Tourette Syndrome Association, 2008):
Simple: Gejala-gejala yang ditunjukkan adalah tics (seperti kedipan mata, gerak tubuh & wajah) dan vokalisasi (seperti suara-suara serak yang berulang)
Complex: Gejala-gejalanya lebih berat, termasuk melompat, berputar-putar, kompulsi, dan vokalisasi pengulangan kata-kata atau suara (echolalia) dan umpatan (coprolalia)
Penyebab gangguan
Sindrom Tourette sebagian besar terjadi secara genetik (minimal riwayat tics dan OCD), namun pola pewarisan gangguan ini masih belum jelas (Robertson, 2000). Selain itu juga terdapat kemungkinan bahwa sindrom Tourette merupakan akibat dari gangguan perinatal, misalnya cedera saat kelahiran. Hipotesis terbaru menyebutkan bahwa sindrom Tourette diakibatkan oleh PANDAS (Pediatric Autoimmune Neuropsychiatric Disorders Associated with Streptococcal infections), atau gangguan neuropsikiatris-autoimun yang disebabkan oleh infeksi bakteri streptokokus maupun virus-virus yang diduga berperan dalam perkembangan gangguan sindrom Tourette (Dhamayanti, dkk., 2004, Hoekstra, dkk., 2002, Glickman, 2008).
Dalam perjalanan gangguan, gejala akan lebih sering muncul jika anak merasakan tekanan (stress) dan ketidakstabilan emosi, terutama tics yang menjadi lebih sering muncul (Robertson, 2000).
Psikoterapi untuk sindrom Tourette
Sejak beberapa dekade yang lalu, haloperidol sering digunakan sebagai obat untuk mengendalikan gejala pada penderita sindrom Tourette, tetapi beberapa efek samping yang ditimbulkan telah menurunkan frekuensi penggunaan obat tersebut. Farmakoterapi lainnya antara lain penggunaan pimozide, clonazepam, dan clonidine (Brown & Sammons, 2002, Robertson, 2000). Sebuah penelitian memprediksi bahwa 70% penderita sindrom Tourette akan mengalami pengurangan gejala saat penderita memasuki usia remaja akhir, dan 30%-40% penderita akan mengalami kesembuhan total saat melewati usia dewasa akhir (Dhamayanti, dkk., 2004), namun gejala dapat muncul kembali ataupun menjadi semakin parah akibat stressor-stresor psikologis. Penelitian lainnya menyebutkan bahwa mayoritas penderita sindrom Tourette dapat hidup tanpa terapi obat (Dhamayanti, dkk., 2004). Asumsi-asumsi tersebut dapat menjadi dasar bagi penggunaan psikoterapi sebagai salah satu penunjang bagi penderita sindrom Tourette untuk dapat mengoptimalkan potensinya dan hidup dengan cara-cara yang adaptif.
Tujuan utama dari psikoterapi untuk penderita sindrom Tourette adalah agar ia mampu mengembangkan strategi koping yang positif. Beberapa pendekatan terapi yang memungkinkan untuk diterapkan pada penderita sindrom Tourette antara lain adalah sebagai berikut:
Pendekatan Kognitif Behavioral – Habit Reversal (Wilhelm, dkk., 2003, Piacentini, 2004)
Komponen-komponen utama dari pendekatan ini adalah:
- Latihan kesadaran (awareness training)
- Kunjungan pertama, klien mencatat frekuensi tics dalam durasi tertentu setiap hari
- Prosedur deskripsi respon: Mendeskripsikan detil dari tiap tic kepada terapis, dapat menggunakan video.
- Prosedur deteksi respon: Terapis mengisyaratkan klien setiap muncul tic
- Prosedur peringatan awal: Klien berlatih untuk mendeteksi tanda-tanda awal sebelum terjadi tic
- Latihan menyadari situasi: Klien mengidentifikasi situasi, orang, atau tempat ketika gejala memburuk ataupun membaik
- Pemantauan diri (self-monitoring), misalnya menghitung sebelum terjadinya gejala
- Latihan relaksasi, misalnya relaksasi otot, pernapasan, imajinasi, dsb. setiap hari selama 10-15 menit, dan dipraktekkan selama 1-2 menit setiap muncul kecemasan atau setelah muncul tics
- Prosedur ‘melawan’ respon
- Memikirkan respon tertentu yang inkompatibel dengan tic, berlawanan dengan gerakan, dapat dipertahankan selama beberapa menit, memunculkan tekanan otot yang sama dengan yang terjadi saat gerakan tic muncul, tidak terlalu mencolok, serta menguatkan otot yang antagonis dengan tic.
Contoh:
Untuk gerakan kepala, otot leher dikontraksikan denganmenahan dagu ke bawah.
Untuk tic vokal (vokalisasi), tarik napas panjang dan terus bernapas pelan-pelan dengan hidung sementara mulut tertutup
- Dilakukan selama kira-kira 3 menit setelah tic dan saat muncul perasaan tic akan muncul
- Manajemen kontingensi
- Terapis menginstruksikan keluarga klien untuk memberikan komentar berupa penghargaan jika klien menunjukkan kemajuan dan terus mengingatkan jika klien lupa untuk berlatih
- Klien diikutsertakan dalam aktivitas-aktivitas menyenangkan yang sudah mulai jarang dilakukan
- Reviu ketidaknyamanan, berisi reviu ketidaknyamanan, rasa malu, serta kesulitan-kesulitan klien yang diakibatkan oleh munculnya gejala
Psikoterapi Suportif (Wilhelm, dkk., 2003)
Terapi ini lebih mengarah pada pendekatan humanistik (khususnya Gestalt) di mana terapis diharapkan untuk tidak bersikap direktif, dan penderita sindrom Tourette memfokuskan diri pada pengalaman-pengalamannya, merefleksikan serta mengekspresikan perasaan-perasaannya terkait dengan cara hidup dan cara menyelesaikan masalah.
Hipnoterapi (Kohen & Botts, 1987)
Penderita sindrom Tourette dilatihkan bagaimana menghipnosis diri sendiri dalam rangka mengendalikan kebiasaan, gejala fisik, dan kondisi-kondisi lainnya. Hipnoterapi juga menggunakan teknik-teknik relaksasi dan imajinasi, sebagaimana yang sering dilakukan pada meditasi.
Dalam keadaan terhipnosis, terapis memberi sugesti yang mengarah pada perubahan perilaku, penurunan kecemasan, dan intensitas gejala.
Teknik-teknik berbasis psikoanalisis (Bruun, dkk., 1994)
Ketidakmampuan dalam mengendalikan tubuh dan pikiran sendiri seringkali menjadi sumber kecemasan, ketakutan, rasa bersalah, rasa tidak berdaya, kemarahan, dan depresi. Sebagian penderita menghadapinya dengan menarik diri, dan sebagian lagi dengan agresivitas. Reaksi sosial yang negatif pun seringkali tak terhindarkan. Harga diri dan kepercayaan diri menjadai permasalahan yang umum pada penderita sindrom Tourette, sebagaimana yang sering dialami oleh pasien dengan penyakit-penyakit kronis. Terapi psikoanalisis lebih memfokuskan pada permasalahan-permasalahan seputar penerimaan diri.
Terapi keluarga (Bruun, dkk., 1994)
Sebagai gangguan yang kronis, sindrom Tourette juga berdampak pada keluarga penderita. Orang tua seringkali harus menghadapi saat-saat sulit ketika anak menunjukkan gejala. Permasalahan yang muncul dalam keluarga dapat berupa:
- Rasa bersalah orang tua atas kelainan genetik
- Sulitnya bagi anggota keluarga untuk mengetahui gejala-gejala yang mana yang dapat dan yang tidak dapat dikendalikan
- ‘Ketidakadilan’ yang dipersepsi oleh saudara baik itu adik maupun kakak dari penderita
- Relasi yang memburuk antara suami istri
Terapi keluarga hendaknya difokuskan pada peran penderita sindrom Tourette dalam keluarga, dimana ia sering menerima perlakuan-perlakuan sebagai berikut:
- Overproteksi dari orang tua/anggota keluarga
- Dihukum
- Tidak dipahami perasaan/pikirannya
- Dianggap sebagai sumber aib
Terapis berfungsi sebagai fasilitator bagi keluarga agar dapat belajar menerima anggota keluarga dengan sindrom Tourette, sehingga ia dapat merasa aman dan mampu menghadapi lingkungannya dengan lebih adaptif.
Sebagai langkah awal terapi, keluarga perlu diberi informasi dan dipahamkan tentang berbagai aspek dari gangguan sindrom Tourette. Tujuan akhir dari terapi adalah keluarga mampu membangun sebuah lingkungan yang mendukung bagi penderita sindrom Tourette, dan dapat berlaku fleksibel dalam memfasilitasi sehingga tidak terlalu overprotektif.
Intervensi akademik dan okupasional (Bruun, dkk., 1994)
Anak dengan sindrom Tourette biasanya mengalami kesulitan dalam hal konsentrasi, perhatian, dan belajar sehingga membutuhkan intervensi pendidikan khusus, misalnya pengajar khusus, kelas khusus, labboratorium khusus, dsb., yang disesuaikan dengan tingkat keparahan gejala. Sekolah perlu diinformasikan mengenai sindrom Tourette, karena seringkali sekolah tidak memahami gangguan tersebut sehingga penderita dicap sebagai anak nakal, mengganggu, dan bodoh. Umumnya penderita sindrom Tourette tidak mampu menjalankan fungsi mental dan sosial sesuai dengan usia kronologisnya, atau mengalami perlambatan dalam perkembangannya (Barkley, 1991).
Orang dewasa dengan sindrom Tourette seringkali membutuhkan modifikasi khusus pada lingkungan kerjanya. Perlu untuk membangun pemahaman pada lingkungan kerja tentang gangguan yang diderita. Fleksibilitas, kepedulian, serta produktifitas dalam pekerjaan dapat ditingkatkan dengan intervensi yang tepat bagi penderita yang sangat simtomatik sekalipun.
Kasus di Indonesia
G, seorang wanita asal Bali yang saat ini berusia 29 tahun, adalah penderita sindrom Tourette. Menurut keterangan keluarganya, gangguan pertama kali muncul saat G duduk di kelas 4 SD (kira-kira di usia 10 tahun). Seiring dengan perjalanan waktu, gangguan yang dialami G menjadi semakin parah. Karena kurangnya pengetahuan medis, G dibawa oleh keluarganya ke paranormal. Menurut paranormal, gangguan G disebabkan oleh berbagai etiologi magis-mistis yang terkait dengan budaya lokal yang kemudian di yakini oleh keluarga G.
Gejala-gejala yang dialami G adalah tics terutama di daerah bahu hingga lengan, kaki (ketika berjalan), kepala, dan wajah. Selain itu juga terdapat vokalisasi berupa umpatan-umpatan dan suara-suara tenggorokan. Semua gejala-gejala tersebut muncul dan hilang dengan sendirinya, tanpa bisa dikendalikan.
Kurangnya wawasan mengenai penyakit dalam masyarakat kita seringkali menyebabkan munculnya berbagai perlakuan negatif terhadap penderita sindrom Tourette. Gejala-gejalanya yang dianggap aneh menyebabkan penderita menjadi bahan ejekan dan keluarga penderita pun malu dengan hal itu. Dalam kasus G, ia dan keluarganya mengeluhkan sulitnya menemukan pasangan hidup karena mereka merasa tidak ada yang mau menikah dengan wanita penderita sindrom Tourette.
Pengobatan medis terhadap G telah dilakukan, namun pada akhirnya pengobatan dihentikan atas kehendak keluarga G karena mereka menganggap bahwa gangguan G terkait dengan ‘kutukan’ atas kesalahan masa lalu dan seharusnya G dapat mengendalikan sendiri gejala gangguan tanpa perlu mengkonsumsi obat. Hal ini merupakan akibat dari kurangnya sosialisasi bahwa sindrom Tourette sulit untuk disembuhkan dan penggunaan obat ditujukan untuk mengendalikan gejala yang muncul.
G hanyalah satu dari sekian banyak penderita sindrom Tourette di Indonesia. Gangguan ini memang tidak terlalu populer di Indonesia, sehingga penderitanya pun seringkali dikucilkan dan menjadi bahan ejekan. Perlakuan masyarakat di sekitar penderita lebih berdampak pada meningkatnya kecemasan dan tekanan pada penderita sindrom Tourette. Hal ini menyebabkan impulsivitas penderita juga meningkat yang akibatnya gejala-gejala muncul lebih sering dan tidak terkendali. Hal inilah yang juga menghambat proses bagi penderita sindrom Tourette untuk dapat hidup normal dan adaptif.
Tags: Tourette Syndrome , diagnosis, diagnosa, psikoterapi, psikologi,tics,sindrom tourette,psikoanalisis,hipnoterapi,kognitif behavioral
Blog Menarik Lainnya
|
saya mengalami gangguan sydrom Tourette apakah ada cara untuk mengatasi gangguan tersebut yang lebih detail, saya sangat mengharapkan dapat di email ke : will.intermilan@gmail.com.Thanks |
|
Kirim Komentar
Login first to leave a comment.
Signup here or Login here
|